KBRN, Purbalingga: Pengembangan batu akik Klawing yang digenjot
oleh Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto, ternyata didukung
penuh oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menurut Ganjar
pengembangan batu akik Klawing yang memiliki keunggulan beraneka ragam
motif dapat memunculkan industri kreatif dikalangan masyarakat.
“Bukan
hanya industri pengolahan batu menjadi mata cincin saja tetapi ini akan
mendorong industri kreatif lainya. Apalagi Pak bupati (Sukento Rido
Marhaendrianto-red) juga mempunyai pemikiran selain memoles batunya juga
membuat emban atau cincin untuk mata akik. Ini akan memunculkan kreasi,
inovasi industri kreatif yang baru,” ujar Gubernur Jawa Tengah Ganjar
Pranowo usai meninjau Pameran Batu Akik Klawing di Griya UMKM, eks.
Sanggar Pramuka selatan Mapolres Purbalingga, Jumat (6/3/2015).
Meski
mendorong tumbuhnya industri kreatif batu Klawing, gubernur juga
mengingatkan agar cara menambang batu bahan akik ini dapat diatur.
Jangan sampai dilakukan dengan sembarangan. Asal ada potensi batu
kemudian diambil dengan seenaknya tanpa memikirkan kerusakan
lingunganya.
“Karena ini di aliran Sungai
Klawing, saya minta berkordinasi dengan ESDM, PU dan balai besar untuk
pengelolaan wilayah sungai (BBWS) agar tidak terjadi persoalan baru.
Mungkin salah satunya menyangkut galian C,” jelasnya.
Potensi
batu di sungai Klawing memiliki kekhasan tersendiri seperti batu hijau
dengan bercak merah darahnya yang sering disebut Nogosui, batu
bergambar, Panca Warna dan lainya. Oleh karena itu, agar dapat
dikembangkan lebih maksimal Ganjar juga mendorong dilakukan sertifikasi
terhadap produk batu akik khas sungai Klawing.
Usai
melakukan peninjauan, di jari jemari Ganjar terlihat melingkar tiga
cincin batu akik Klawing. Tak hanya itu, dilehernya juga tergerai
lionting motif kotak yang juga diisi batu akik Klawing.
“Terus terang saya tidak terlalu suka memakai cincin kecuali cincin kawin ini. Tapi dalam hal kita menghormati suatu karya, kadang-kadang memang saya munculkan seperti yang saya pakai ini. Banyak koleksi saya hanya untuk menunjukan banyak kekayaan yang ada di Jawa Tengah,” katanya.
“Terus terang saya tidak terlalu suka memakai cincin kecuali cincin kawin ini. Tapi dalam hal kita menghormati suatu karya, kadang-kadang memang saya munculkan seperti yang saya pakai ini. Banyak koleksi saya hanya untuk menunjukan banyak kekayaan yang ada di Jawa Tengah,” katanya.
Ketua
panitia, Cune Yulianto dari Komunitas Pecinta Batu Klawing Nogosui
menuturkan, kegiatan pameran yang akan berlangsung selama tiga hari,
Jumat hingga Minggu (6-8/3/2015) untuk menggelorakan dan membumikan
potensi batu akik Klawing yang kini telah merambah luar daerah.
Tujuannya agar didaerah asalnya, Purbalingga, batu akik Klawing dapat
lebih diterima sebagai salah satu kebanggaan masyarakat.
Pameran
diikuti 30 stand yang menjajakan beraneka ragam produk batu akik
Klawing, termasuk batu bahan, emban, dan aksesoris lainnya berupa bross
akik Klawing, liontin Klawing, Stiker tema Akik Klawing dan Kaos Batu
Klawing.
Untuk meramaikan acara, lanjut Cune, tiap malam digelar barbagai hiburan yang dipusatkan di Warung Apresiasi atau Wapres.
“Minggu pagi kami juga menggelar acara Body Painting dengan aksesoris batu akik Klawing,” katanya. (SPJ)
“Minggu pagi kami juga menggelar acara Body Painting dengan aksesoris batu akik Klawing,” katanya. (SPJ)
Batu Akik Sungai Klawing Dilirik
Wisatawan Asing
KBRN, Purbalingga : Booming batu akik di Indonesia
beberapa bulan terakhir, berdampak pada peningkatan omset perajin batu akik di
Purbalingga. Karena ditempat ini, mempunyai bahan baku batu akik dengan
kualitas bagus, yang berasal dari Sungai Klawing.
Sebenarnya sudah sangat lama, penduduk disekitar aliran Sungai Klawing membuat batu akik, namun baru mulai tahun 2014, batu akik buatan masyarakat Purbalingga dikenal luas bahkan hingga ke mancanegara.
Salah satu perajin batu akik dari Kelurahan Bancar, Anang Purwadi mengatakan saat ini masyarakat mulai menyukai batu akik dari Kali Klawing, karena kualitas dan mempunyai keindahan tersendiri, selain itu sejumlah batu akik yang ada mempunyai corak yang sangat menarik, mualai dari gambar pemandangan alam, gambar manusia atau bahkan legenda masyarakat.
Sehingga pencinta perhiasan menyukainya, ditambah dengan harga relatif murah. Namun secara umum pecinta batu akik, mengenal dua jenis yang berasal dari Purbalingga yakni Nogo Suwi dan Pancawarna.
Menurut Anang, pembeli biasanya datang langsung ke bengkel kerajinanya untuk memasan dan membeli, yang didominasi oleh pedagang asal Purbalingga, yang akan menjual kembali batu akik buatanya. Dengan harga jual mulai puluhan ribu hingga, jutaaan rupiah.
Kendati permintaan cukup banyak, Anang mengaku dalam sehari hari hanya bisa menghasilkan 5 batu akik. Karena keterbatasan peralatan, terutama mesin gergaji batu. Soal bahan baku, Anang dan ratusan peajin di Purbalingga tidak khawatir, karena tersedia cukup banyak.
Mereka tinggal mencari disepanjang aliran sungai Klawing, atau membeli dari masyarakat yang keseharianya hanya mencari batu alam, bahan baku batu akik.
“Untuk saya sendiri dari bahan awalnya kita mencari di sungai-sungai, untuk selanjutnya kalau kita melihat bahan-bahan yang bagus ada orang menawarkan kita juga membelinya. Untuk barang jadipun, untuk saya membeli kalu kita lihat barangnya unik, kalaupun harganya bisa dijual belikan lagi, kita bisa mengambilnya,” kata Anang di bengkel batu akik, Ki Bodo-bodo Purablingga (5/12/2014).
Sementara itu, Putra pembeli batu akik Purbalingga mengaku sangat suka dengan batu akik yang berasal dari Kali Klawing, karena mempunyai corak warna yang banyak. Selain itu dirinya bisa memesan besar ukuran batu akik.
“ Kalau batu akik di Purablingga itu bagus-bagus, terutama warnya banyak dan mempunyai corak yang beranaka ragam. Harganya juga relative murah, masih terjangkau,” terang Putra. (RA/WDA)
Sebenarnya sudah sangat lama, penduduk disekitar aliran Sungai Klawing membuat batu akik, namun baru mulai tahun 2014, batu akik buatan masyarakat Purbalingga dikenal luas bahkan hingga ke mancanegara.
Salah satu perajin batu akik dari Kelurahan Bancar, Anang Purwadi mengatakan saat ini masyarakat mulai menyukai batu akik dari Kali Klawing, karena kualitas dan mempunyai keindahan tersendiri, selain itu sejumlah batu akik yang ada mempunyai corak yang sangat menarik, mualai dari gambar pemandangan alam, gambar manusia atau bahkan legenda masyarakat.
Sehingga pencinta perhiasan menyukainya, ditambah dengan harga relatif murah. Namun secara umum pecinta batu akik, mengenal dua jenis yang berasal dari Purbalingga yakni Nogo Suwi dan Pancawarna.
Menurut Anang, pembeli biasanya datang langsung ke bengkel kerajinanya untuk memasan dan membeli, yang didominasi oleh pedagang asal Purbalingga, yang akan menjual kembali batu akik buatanya. Dengan harga jual mulai puluhan ribu hingga, jutaaan rupiah.
Kendati permintaan cukup banyak, Anang mengaku dalam sehari hari hanya bisa menghasilkan 5 batu akik. Karena keterbatasan peralatan, terutama mesin gergaji batu. Soal bahan baku, Anang dan ratusan peajin di Purbalingga tidak khawatir, karena tersedia cukup banyak.
Mereka tinggal mencari disepanjang aliran sungai Klawing, atau membeli dari masyarakat yang keseharianya hanya mencari batu alam, bahan baku batu akik.
“Untuk saya sendiri dari bahan awalnya kita mencari di sungai-sungai, untuk selanjutnya kalau kita melihat bahan-bahan yang bagus ada orang menawarkan kita juga membelinya. Untuk barang jadipun, untuk saya membeli kalu kita lihat barangnya unik, kalaupun harganya bisa dijual belikan lagi, kita bisa mengambilnya,” kata Anang di bengkel batu akik, Ki Bodo-bodo Purablingga (5/12/2014).
Sementara itu, Putra pembeli batu akik Purbalingga mengaku sangat suka dengan batu akik yang berasal dari Kali Klawing, karena mempunyai corak warna yang banyak. Selain itu dirinya bisa memesan besar ukuran batu akik.
“ Kalau batu akik di Purablingga itu bagus-bagus, terutama warnya banyak dan mempunyai corak yang beranaka ragam. Harganya juga relative murah, masih terjangkau,” terang Putra. (RA/WDA)
KBRN,
Purbalingga:Salah seorang perajin besar batu hias dan batu akik Klawing, Bayu
“Raja Klawing” meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) Purbalingga segera
merealisasikan adanya pasar batu di Purbalingga. Pasar batu tersebut nantinya
diisi seluruh perajin batu akik di Purbalingga sehingga pemasaran batu akik
Klawing dapat terpusat di suatu tempat.
“Untuk
mendongkrak pemasaran memang yang terbaik harus ada pasar batu dimana seluruh
komunitas batu di Purbalingga berkumpul di pasar itu. Soal tempat monggo
terserah pemda mau dibangun dimana,” ujar Bayu, saat ditemui di rumah sekaligus
bengkel dan showroom batu Akik Klawing yang belokasi di Desa Kembangan
Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Selasa (10/2/2015).
Bayu
bahkan mengusulkan agar di lokasi pasar batu tersebut dilengkapi semacam
museum batu Akik Klawing. Harapanya keberadaan museum itu akan lebih menarik
perhatian pecinta batu sehingga mereka akan berkunjung sekaligus menjadi
pembeli batu akik Klawing.
Bayu
sendiri, saat ini merupakan pengusaha dan perajin batu Akik Klawing yang menjadi salah satu rujukan
bagi para perajin baru di wilayah Purbalingga. Bahkan perajin batu dari
Purwokerto dan Banjarnegara tak jarang yang kulakan bahan batu Akik Klawing di
bengkelnya.
Dia mengaku,
awal usahanya bermula dari kesenangan dia mengumpulkan batu kali meski tak tahu
akan diapakan batu-batu itu. “Itu sejak tahun 2010. Saya baru tahu dari seorang
teman kalau batu yang saya kumpulkan bisa menjadi hiasan. Kemudian mencari
orang yang bisa menggosok batu menjadi mengkilap. Sejak itulah saya menekuni
bisnis batu biseki atau batu hias,” jelasnya.
Wacana
pembuatan pasar batu atau sentra penjualan batu akik Klawing diungkapkan Bupati
Sukento Rido Marhaendrianto, saat mengukuhkan Paguyuban Pecinta dan Pelestari
Batu Akik Klawing, di Pendapa Dipokusumo, awal November lalu.
Menurut
Bupati, tren batu akik Klawing perlu ditangkap menjadi peluang usaha guna
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu perlu dibangun sebuah sentra
penjualan batu akik Klawing sebagai fasilitasi pemkab terhadap kendala
pemasaran para perajin.
Ketua
Paguyuban, Cahyono atau lebih dikenal dengan nama Jojo Sindunala juga mendukung
adanya sentra penjualan di Purbalingga. Hal itu untuk meberikan pasar bagi para
perajin batu akik yang kini bermunculan dimana-mana. Jumlahnya, lanjut Jojo,
melonjak tajam dari awalnya hanya tiga ratusan perajin, kini sudah
mencapai ribuan.
“Kami dari
paguyuban juga berupaya menangkap peluang pemasaran di tingkat nasional, dengan
adanya tawaran pengelola pasar Permai Koja, Jakarta Utara. Sudah ada 38 perajin
yang siap mengisi dari 40 kios yang ditawarkan dan rencananya akan launching
mulai 18 Februari mendatang,” jelas Jojo.
Jojo
melanjutkan, Jakarta Klawing Centre yang berada di Pasar Permai Blok B Lantai
3, Koja, Jakarta Utara, merupakan terobosan pemasaran yang dilakukan paguyuban.
Upaya tersebut mendapat dukungan penuh Bupati Sukento dan dinas terkait seperti
Dinperindagkop dan Bappeda.
“Rencananya
saat pembukaan nanti, kami juga mengundang Bapak Bupati untuk menghadiri acara
itu,” tambahnya. (spj/BCS)
KBRN, Purbalingga: Tawaran pengisian kios penjualan batu akik
Klawing di Jakarta Klawing Centre komplek Pasar Permai Blok B Lantai 3,
Koja, Jakarta Utara kurang mendapat respon para perajin di Purbalingga.
Mereka lebih membutuhkan adanya sentra penjualan batu akik Klawing di
Purbalingga.
Hal itu mengemuka dalam diskusi
antara Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto bersama para
perajin dan penjual batu akik Klawing di Operation Room Graha Adiguna,
komplek Pendapa Dipokueumo Purbalingga, Senin (9/2/2015).
Sugeng,
salah seorang perajin dari Kradenan Kecamatan Mrebet menyambut baik
pembukaan sentra penjualan di Jakarta sebagai upaya meningkatkan nilai
jual produk batu akik Klawing di pasar nasional.
“Sebisa
mungkin di lokal Purbalingga ada sentra penjualan, apa itu berupa pasar
daerah atau pasar lokal yang dapat menampung produk kerajinan batu akik
Purbalingga. Bagaimanapun Purbalingga sebagai pusat atau induk dari
kegiatan batu Klawing,” katanya.
Sementara
menurut Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik, Djarot Sopan Rijadi
keberadaan sentra penjualan batu Klawing di Purbalingga dapat
menumbuhkan multiplayer effect bagi ekonomi masyarakat. Sementara jika
sentranya ada di Jakarta justru perputaran uangnya ada di Jakarta.
“Akan
berbeda jika ada sentra penjualan di Purbalingga. Orang luar daerah
akan datang ke Purbalingga, hotelnya rame, kulinernya laris bahkan
sektor wisatanya juga akan lebih bergeliat,” ujarnya.
Bupati
Sukento Rido Marhaendrianto mengaku dengan dibukanya Jakarta Klawing
Centre pada 18 Februari lusa, perlu dimanfaatkan para perajin akik
Purbalingga untuk membuka pasar batu akik Klawing di tingkat nasional.
Di Lokasi Jakarta Klawing Centre itu, manajemen Pasar Permai Koja,
Jakarta Utara menyediakan 40 kios khusus untuk batu akik Klawing.
Menurut
Bupati, membuka pasar baru, tentu butuh perjuangan yang tidak ringan.
Orang jual beras saja lanjut Bupati, tidak mesti langsung laku, apalagi
ini jual batu yang dalam prioritas kebutuhan entah di urutan keberapa.
“Jadi
pasar lokal di Purbalingga sangat perlu, tapi sentra penjualan di
kota-kota besar juga bermanfaat untuk mendekatkan produk dengan
konsumennya,” jelasnya.
Bupati menambahkan,
saat ini ada sejumlah wacana penempatan sentra penjualan di Purbalingga.
Ada sebagian yang menginginkan sentra penjualan di lingkar Jalan Pucung
Rumbak Bancar karena sudah terdapat puluhan komunitas perajin dan
penjual batu akik Klawing.
“Mungkin juga bisa ditempatkan di UMKM Centre utara pasar Segamas Purbalingga. Sehingga langsung dibawah pembinaan Dinperindagkop,” jelasnya.
“Mungkin juga bisa ditempatkan di UMKM Centre utara pasar Segamas Purbalingga. Sehingga langsung dibawah pembinaan Dinperindagkop,” jelasnya.
Pada
diskusi tersebut juga muncul wacana pembentukan pengumpul bahan batu
akik yang akan menampung bahan batu akik dari para petani. Tujuannya
agar bahan batu akik tidak dijual bebas tapi diolah terlebih dulu
menjadi produk mata cincin atau liontin sehingga meningkatkan nilai
jual.
Tren batu akik Klawing juga dapat
dimanfaatkan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui upaya
fasilitasi sertifikasi batu akik Klawing melalui Dinperindagkop. Bupati
juga berpesan kepada seluruh pelaku batu akik agar turut memperhatikan
kelestarian lingkungan. Jangan sampai akibat tren batu akik Klawing
menjadikan kerusakan lingkungan yang tidak terkendali. (spj/WDA)
KBRN, Purwokerto : Sejumlah pencinta batu Akik kalwing yang berdomisili
di Jakarta, membentuk Jakarta Batu Akik Klawing Center (JKC). JKC ini bertempat di
lantai 3 Pasar Permai Jl. Lorong Permai 104, Kelurahan Koja, Kecamatan
Koja, Jakarta Utara.
Pembentukan JKC ini,
menurut Burhanudin - salah seorang pencinta batu Akik klawing Purbalingga,
dikarenakan pada saat itu ada seorang pedagang batu klawing dari
Purbalingga yang bertemu dengan satpol PP Jakarta yang berasal dari
Purbalingga menawarkan kios di Pasar Permai.
Tawaran ini kemudian diterimanya dan sampai saat ini sudah ada sembilan kios yang ditempati pedagang batu klawing dari Purbalingga.
Tawaran ini kemudian diterimanya dan sampai saat ini sudah ada sembilan kios yang ditempati pedagang batu klawing dari Purbalingga.
“Dengan
adanya kios, penjualan batu Akik klawing semakin meningkat sehingga
dibentuklah JKC,” ujar Burhanudin pada saat acara sambung rasa di Gedung
Graha Adiguna, Selasa (20/1/2015).
Kegiatan sambung rasa ini atas kerjasama antara Pemerintah Daerah Purbalingga dengan RRI Purwokerto. Siaran sambung rasa Salah satu progranm di Pro 3 RRI ini akan disiarkan ulang secara nasional pada hari Kamis, 22 Januari 2015 pukul 05.00 WIB.
Kegiatan sambung rasa ini atas kerjasama antara Pemerintah Daerah Purbalingga dengan RRI Purwokerto. Siaran sambung rasa Salah satu progranm di Pro 3 RRI ini akan disiarkan ulang secara nasional pada hari Kamis, 22 Januari 2015 pukul 05.00 WIB.
Burhanudin menambahkan, kios
yang di berikan oleh pengelola pasar untuk ditempati sebanyak 40 kios,
sehingga masih banyak peluang bagi pedagang batu akik klawing di sana. Hanya
membayar uang administrasi sebesar Rp 400.000 dan membayar retribusi Rp
4.000 per hari, pedagang sudah bisa mendapatkan satu kios.
Bupati
Purbalinga Sukento Rido Marhaendrianto menyambut gembira dengan adanya
JKC ini, ia berharap, dengan adanya JKC ini maka gema batu akik klawing
semakin baik di tingkat nasional, karena pesona Batu Klawing tidak
seperti tanaman gelombang cinta atau ikan louhan.
“Selain indah, Batu Akik Klawing mempunyai sifat unik, dan ini tidak dimiliki batu-batu yang lain,” kata Sukento.
Untuk
menjaga nilai batu akik klawing tetap tinggi, maka masyarakat diharapkan
dapat menempatkan batu klawing seperti batu permata. Ekploitasi
besar-besarany juga tidak perlu dilakukan karena hanya akan menurunkan
nilai jual batu itu sendiri.
Dari data Dinas
Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM pada tahun 2015, akan
digelontorkan dana sebesar Rp 900 juta untuk UKM Batu Klawing. Bantuan
ini nantinya dalam bentuk alat, etalase dan pelatihan. bantuan juga
tidak diberikan pada perorangan namun akan diberikan kepada kelompok.
(spj/HF)
























Tidak ada komentar:
Posting Komentar