Kamis, 12 Maret 2015

Batu Akik Klawing Purbalingga

KBRN, Purbalingga:  Pengembangan batu akik Klawing yang digenjot oleh Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto, ternyata didukung penuh oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Menurut Ganjar pengembangan batu akik Klawing yang memiliki keunggulan beraneka ragam motif dapat memunculkan industri kreatif dikalangan masyarakat.

“Bukan hanya industri pengolahan batu menjadi mata cincin saja tetapi ini akan mendorong industri kreatif lainya. Apalagi Pak bupati (Sukento Rido Marhaendrianto-red) juga mempunyai pemikiran selain memoles batunya juga membuat emban atau cincin untuk mata akik. Ini akan memunculkan kreasi, inovasi industri kreatif yang baru,” ujar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo usai meninjau Pameran Batu Akik Klawing di Griya UMKM, eks. Sanggar Pramuka selatan Mapolres Purbalingga, Jumat (6/3/2015).

Meski mendorong tumbuhnya industri kreatif batu Klawing, gubernur juga mengingatkan agar cara menambang batu bahan akik ini dapat diatur. Jangan sampai dilakukan dengan sembarangan. Asal ada potensi batu kemudian diambil dengan seenaknya tanpa memikirkan kerusakan lingunganya.

“Karena ini di aliran Sungai Klawing, saya minta berkordinasi dengan ESDM, PU dan balai besar untuk pengelolaan wilayah sungai (BBWS) agar tidak terjadi persoalan baru. Mungkin salah satunya menyangkut galian C,” jelasnya.

Potensi batu di sungai Klawing memiliki kekhasan tersendiri seperti batu hijau dengan bercak merah darahnya yang sering disebut Nogosui, batu bergambar, Panca Warna dan lainya. Oleh karena itu, agar dapat dikembangkan lebih maksimal Ganjar juga mendorong dilakukan sertifikasi terhadap produk batu akik khas sungai Klawing.

Usai melakukan peninjauan, di jari jemari Ganjar terlihat melingkar tiga cincin batu akik Klawing. Tak hanya itu, dilehernya juga tergerai lionting motif kotak yang juga diisi batu akik Klawing.

“Terus terang saya tidak terlalu suka memakai cincin kecuali cincin kawin ini. Tapi dalam hal kita menghormati suatu karya, kadang-kadang memang saya munculkan seperti yang saya pakai ini. Banyak koleksi saya hanya untuk menunjukan banyak kekayaan yang ada di Jawa Tengah,” katanya.

Ketua panitia, Cune Yulianto dari Komunitas Pecinta Batu Klawing Nogosui menuturkan, kegiatan pameran yang akan berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (6-8/3/2015) untuk menggelorakan dan membumikan potensi batu akik Klawing yang kini telah merambah luar daerah. Tujuannya agar didaerah asalnya, Purbalingga, batu akik Klawing dapat lebih diterima sebagai salah satu kebanggaan masyarakat.

Pameran diikuti 30 stand yang menjajakan beraneka ragam produk batu akik Klawing, termasuk batu bahan, emban, dan aksesoris lainnya berupa  bross akik Klawing, liontin Klawing, Stiker tema Akik Klawing dan Kaos Batu Klawing.

Untuk meramaikan acara, lanjut Cune, tiap malam digelar barbagai hiburan yang dipusatkan di Warung Apresiasi atau Wapres.

“Minggu pagi kami juga menggelar acara Body Painting dengan aksesoris batu akik Klawing,” katanya. (SPJ)


Batu Akik Sungai Klawing Dilirik Wisatawan Asing

KBRN, Purbalingga : Booming batu akik di Indonesia beberapa bulan terakhir, berdampak pada peningkatan omset perajin batu akik di Purbalingga. Karena ditempat ini, mempunyai bahan baku batu akik dengan kualitas bagus, yang berasal dari Sungai Klawing.

Sebenarnya sudah sangat lama, penduduk disekitar aliran Sungai Klawing membuat batu akik, namun baru mulai tahun 2014, batu akik buatan masyarakat Purbalingga dikenal luas bahkan hingga ke mancanegara.

Salah satu perajin batu akik dari Kelurahan Bancar, Anang Purwadi mengatakan saat ini masyarakat mulai menyukai batu akik dari Kali Klawing, karena kualitas dan mempunyai keindahan tersendiri, selain itu sejumlah batu akik yang ada mempunyai corak yang sangat menarik, mualai dari gambar pemandangan alam, gambar manusia atau bahkan legenda masyarakat.

Sehingga pencinta perhiasan menyukainya, ditambah dengan harga relatif murah. Namun secara umum pecinta batu akik, mengenal dua jenis yang berasal dari Purbalingga yakni Nogo Suwi dan Pancawarna.

Menurut Anang, pembeli biasanya datang langsung ke bengkel kerajinanya untuk memasan dan membeli, yang didominasi oleh pedagang asal Purbalingga, yang akan menjual kembali batu akik buatanya. Dengan harga jual mulai puluhan ribu hingga, jutaaan rupiah.

Kendati permintaan cukup banyak, Anang mengaku dalam sehari hari hanya bisa menghasilkan 5 batu akik. Karena keterbatasan peralatan, terutama mesin gergaji batu. Soal bahan baku, Anang dan ratusan peajin di Purbalingga tidak khawatir, karena tersedia cukup banyak.

Mereka tinggal mencari disepanjang aliran sungai Klawing, atau membeli dari masyarakat yang keseharianya hanya mencari batu alam, bahan baku batu akik.

“Untuk saya sendiri dari bahan awalnya kita mencari di sungai-sungai, untuk selanjutnya kalau kita melihat bahan-bahan yang bagus ada orang menawarkan kita juga membelinya. Untuk barang jadipun, untuk saya membeli kalu kita lihat barangnya unik, kalaupun harganya bisa dijual belikan lagi, kita bisa mengambilnya,” kata Anang di bengkel batu akik, Ki Bodo-bodo Purablingga (5/12/2014).

Sementara itu, Putra pembeli batu akik Purbalingga mengaku sangat suka dengan batu akik yang berasal dari Kali Klawing, karena mempunyai corak warna yang banyak. Selain itu dirinya bisa memesan besar ukuran batu akik.

“ Kalau batu akik di Purablingga itu bagus-bagus, terutama warnya banyak dan mempunyai corak yang beranaka ragam. Harganya juga relative murah, masih terjangkau,” terang Putra. (RA/WDA)




KBRN, Purbalingga:Salah seorang perajin besar batu hias dan batu akik Klawing, Bayu “Raja Klawing” meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) Purbalingga segera merealisasikan adanya pasar batu di Purbalingga. Pasar batu tersebut nantinya diisi seluruh perajin batu akik di Purbalingga sehingga pemasaran batu akik Klawing dapat terpusat di suatu tempat.

“Untuk mendongkrak pemasaran memang yang terbaik harus ada pasar batu dimana seluruh komunitas batu di Purbalingga berkumpul di pasar itu. Soal tempat monggo terserah pemda mau dibangun dimana,” ujar Bayu, saat ditemui di rumah sekaligus bengkel dan showroom batu Akik Klawing yang belokasi di Desa Kembangan Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Selasa (10/2/2015).

Bayu  bahkan mengusulkan agar di lokasi pasar batu tersebut dilengkapi semacam museum batu Akik Klawing. Harapanya keberadaan museum itu akan lebih menarik perhatian pecinta batu sehingga mereka akan berkunjung sekaligus menjadi pembeli batu akik Klawing.

Bayu sendiri, saat ini merupakan pengusaha dan perajin batu  Akik Klawing yang menjadi salah satu rujukan bagi para perajin baru di wilayah Purbalingga. Bahkan perajin batu dari Purwokerto dan Banjarnegara tak jarang yang kulakan bahan batu Akik Klawing di bengkelnya.

Dia mengaku, awal usahanya bermula dari kesenangan dia mengumpulkan batu kali meski tak tahu akan diapakan batu-batu itu. “Itu sejak tahun 2010. Saya baru tahu dari seorang teman kalau batu yang saya kumpulkan bisa menjadi hiasan. Kemudian mencari orang yang bisa menggosok batu menjadi mengkilap. Sejak itulah saya menekuni bisnis batu biseki atau batu hias,” jelasnya.

Wacana pembuatan pasar batu atau sentra penjualan batu akik Klawing diungkapkan Bupati Sukento Rido Marhaendrianto, saat mengukuhkan Paguyuban Pecinta dan Pelestari Batu Akik Klawing, di Pendapa Dipokusumo, awal November lalu.

Menurut Bupati, tren batu akik Klawing perlu ditangkap menjadi peluang usaha guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu perlu dibangun sebuah sentra penjualan batu akik Klawing sebagai fasilitasi pemkab terhadap kendala pemasaran para perajin.

Ketua Paguyuban, Cahyono atau lebih dikenal dengan nama Jojo Sindunala juga mendukung adanya sentra penjualan di Purbalingga. Hal itu untuk meberikan pasar bagi para perajin batu akik yang kini bermunculan dimana-mana. Jumlahnya, lanjut Jojo,  melonjak tajam dari awalnya hanya tiga ratusan perajin, kini sudah mencapai ribuan.

“Kami dari paguyuban juga berupaya menangkap peluang pemasaran di tingkat nasional, dengan adanya tawaran pengelola pasar Permai Koja, Jakarta Utara. Sudah ada 38 perajin yang siap mengisi dari 40 kios yang ditawarkan dan rencananya akan launching mulai 18 Februari mendatang,” jelas Jojo.

Jojo melanjutkan, Jakarta Klawing Centre yang berada di Pasar Permai Blok B Lantai 3, Koja, Jakarta Utara, merupakan terobosan pemasaran yang dilakukan paguyuban. Upaya tersebut mendapat dukungan penuh Bupati Sukento dan dinas terkait seperti Dinperindagkop dan Bappeda.

“Rencananya saat pembukaan nanti, kami juga mengundang Bapak Bupati untuk menghadiri acara itu,” tambahnya. (spj/BCS)


KBRN, Purbalingga: Tawaran pengisian kios penjualan batu akik Klawing di Jakarta Klawing Centre komplek Pasar Permai Blok B Lantai 3, Koja, Jakarta Utara kurang mendapat respon para perajin di Purbalingga. Mereka lebih membutuhkan adanya sentra penjualan batu akik Klawing di Purbalingga.

Hal itu mengemuka dalam diskusi antara Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto bersama para perajin dan penjual batu akik Klawing di Operation Room Graha Adiguna, komplek Pendapa Dipokueumo Purbalingga, Senin (9/2/2015).

Sugeng, salah seorang perajin dari Kradenan Kecamatan Mrebet menyambut baik pembukaan sentra penjualan di Jakarta sebagai upaya meningkatkan nilai jual produk batu akik Klawing di pasar nasional.

“Sebisa mungkin di lokal Purbalingga ada sentra penjualan, apa itu berupa pasar daerah atau pasar lokal yang dapat menampung produk kerajinan batu akik Purbalingga. Bagaimanapun Purbalingga sebagai pusat atau induk dari kegiatan batu Klawing,” katanya.

Sementara menurut Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik, Djarot Sopan Rijadi keberadaan sentra penjualan batu Klawing di Purbalingga dapat menumbuhkan multiplayer effect bagi ekonomi masyarakat. Sementara jika sentranya ada di Jakarta justru perputaran uangnya ada di Jakarta.

“Akan berbeda jika ada sentra penjualan di Purbalingga. Orang luar daerah akan datang ke Purbalingga, hotelnya rame, kulinernya laris bahkan sektor wisatanya juga akan lebih bergeliat,” ujarnya.

Bupati Sukento Rido Marhaendrianto mengaku dengan dibukanya Jakarta Klawing Centre pada 18 Februari lusa, perlu dimanfaatkan para perajin akik Purbalingga untuk membuka pasar batu akik Klawing di tingkat nasional. Di Lokasi Jakarta Klawing Centre itu, manajemen Pasar Permai Koja, Jakarta Utara menyediakan 40 kios khusus untuk batu akik Klawing.

Menurut Bupati, membuka pasar baru, tentu butuh perjuangan yang tidak ringan. Orang jual beras saja lanjut Bupati, tidak mesti langsung laku, apalagi ini jual batu yang dalam prioritas kebutuhan entah di urutan keberapa.

“Jadi pasar lokal di Purbalingga sangat perlu, tapi sentra penjualan di kota-kota besar juga bermanfaat untuk mendekatkan produk dengan konsumennya,” jelasnya.

Bupati menambahkan, saat ini ada sejumlah wacana penempatan sentra penjualan di Purbalingga. Ada sebagian yang menginginkan sentra penjualan di lingkar Jalan Pucung Rumbak Bancar karena sudah terdapat puluhan komunitas perajin dan penjual batu akik Klawing.

“Mungkin juga bisa ditempatkan di UMKM Centre utara pasar Segamas Purbalingga. Sehingga langsung dibawah pembinaan  Dinperindagkop,” jelasnya.

Pada diskusi tersebut juga muncul wacana pembentukan pengumpul bahan batu akik yang akan menampung bahan batu akik dari para petani. Tujuannya agar bahan batu akik tidak dijual bebas tapi diolah terlebih dulu menjadi produk mata cincin atau liontin sehingga meningkatkan nilai jual.

Tren batu akik Klawing juga dapat dimanfaatkan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui upaya fasilitasi sertifikasi batu akik Klawing melalui Dinperindagkop. Bupati juga berpesan kepada seluruh pelaku batu akik agar turut memperhatikan kelestarian lingkungan. Jangan sampai akibat tren batu akik Klawing menjadikan kerusakan lingkungan yang tidak terkendali. (spj/WDA)
KBRN, Purwokerto : Sejumlah pencinta batu Akik kalwing yang berdomisili di Jakarta, membentuk Jakarta Batu Akik Klawing Center (JKC). JKC ini bertempat di lantai 3 Pasar Permai Jl. Lorong Permai 104, Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Pembentukan JKC ini, menurut Burhanudin - salah seorang pencinta batu Akik klawing Purbalingga, dikarenakan pada saat itu ada seorang pedagang batu klawing dari Purbalingga yang bertemu dengan satpol PP Jakarta yang berasal dari Purbalingga menawarkan kios di Pasar Permai.

Tawaran ini kemudian diterimanya dan sampai saat ini sudah ada sembilan kios yang ditempati pedagang batu klawing dari Purbalingga.

“Dengan adanya kios, penjualan batu Akik klawing semakin meningkat sehingga dibentuklah JKC,” ujar Burhanudin pada saat acara sambung rasa di Gedung Graha Adiguna, Selasa (20/1/2015).

Kegiatan sambung rasa ini atas kerjasama antara Pemerintah Daerah Purbalingga dengan RRI Purwokerto. Siaran sambung rasa  Salah satu progranm di Pro 3 RRI ini akan disiarkan ulang secara nasional pada hari Kamis, 22 Januari 2015 pukul 05.00 WIB.

Burhanudin menambahkan, kios yang di berikan oleh pengelola pasar untuk ditempati sebanyak 40 kios, sehingga masih banyak peluang bagi pedagang batu akik klawing di sana. Hanya membayar uang administrasi sebesar Rp 400.000 dan membayar retribusi Rp 4.000 per hari, pedagang sudah bisa mendapatkan satu kios.

Bupati Purbalinga Sukento Rido Marhaendrianto menyambut gembira dengan adanya JKC ini, ia berharap, dengan adanya JKC ini maka gema batu akik klawing semakin baik di tingkat nasional, karena pesona Batu Klawing tidak seperti tanaman gelombang cinta atau ikan louhan.

“Selain indah, Batu Akik Klawing mempunyai sifat unik, dan ini tidak dimiliki batu-batu yang lain,” kata Sukento.

Untuk menjaga nilai batu akik klawing tetap tinggi, maka masyarakat diharapkan dapat menempatkan batu klawing seperti batu permata. Ekploitasi besar-besarany juga tidak perlu dilakukan karena hanya akan menurunkan nilai jual batu itu sendiri.

Dari data Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM pada tahun 2015, akan digelontorkan dana sebesar Rp 900 juta untuk UKM Batu Klawing. Bantuan ini nantinya dalam bentuk alat, etalase dan pelatihan. bantuan juga tidak diberikan pada perorangan namun akan diberikan kepada kelompok. (spj/HF)



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar